Archive for the ‘Travelling’ Category

Toraja: Kete Kesu

October 19, 2008
Tana Toraja - Kete Kesu

Tana Toraja - Ke'te' Kesu'

Alhamdulillah, saya bersama rekan tim Fridist menyempatkan untuk melihat situs tertua yang masih ada di sela-sela hari libur saat kami ditugaskan untuk mentraining oleh perusahaan di Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
Kete Kesu adalah sebuah kampung Toraja yang masih terpelihara sampai saat ini. Cagar budaya ini merupakan yang terkenal dan paling banyak dikunjungi wisatawan manca negara dan domestik seperti saya. ;)

Kampung Bonoran, orang banyak pula menyebutnya berjarak tidak jauh dari kota Rantepao. Kalau Anda berkendara mobil, bisa ditempuh kurang lebih 10 menit. Lokasi ini terdapat perumahan dan makam keluarga penduduk Toraja. Rumah adat khas Toraja disebut Tongkonan lengkap dengan lumbung padinya. Rumah adat ini konon tidak berpaku. Tapi dirancang dengan sisi satu dan sisi lainnya saling mengunci, sedangkan atap yang terbuat dari 6 ruas bilahan bambu sebagai kunci terakhir. Cerita dari seorang kawan yang ada di Palopo – Pak Jervin – atap bambu ini memiliki keunikan. Saya terkesan dengan ceritanya dimana potongan bambu yang berukuran kurang lebih 20-30 cm, dibagi dua. Kemudian tingkat pertama disusunlah separuh potongan bambu yang berbentuk setengah lingkaran itu sepanjang sisi atapnya.Kalau hujan datang otomatis berfungsi sebagai talang air. Begitu pula dengan tingkat kedua, disusunlah potongan bambu tersebut menyilang dengan arah yang terbalik. Tingkat ketiga dengan posisi yang sama seperti tingkat pertama, begitu seterusnya sampai tingkat keenam. Oleh karenanya berat atap bambu yang sudah berat dapat berfungsi sebagai kunci terakhir.

Foto di atas saya ambil menggunakan tripod di dalam gua yang dijadikan sebagai makam salah satu keluarga di Tana Toraja. Berdiri dari kiri ada Dori, Pak Erol, Pak Anto, Elan, Nelda, Pak Andries, Reza dan sobat kecil yang berjongkok bersama saya. Terima kasih juga buat Hendri – sobat kecil yang berjongkong paling kanan di samping saya – yang sudah banyak menjelaskan banyak informasi mengenai situs ini.

Padang: Rumah Gadang

September 23, 2008
Padang - Rumah Gadang
Padang – Rumah Gadang

Pesona rumah Gadang, banyak saya lihat ketika saya bertugas di wilayah Sumatera Barat. Konon banyak pernerjun payung tidak berani mendarat di kota Padang. Kenapa? Ternyata, para penerjun takut merentangkan payung-nya karena takut tertancap di ujung rumah Gadang yang tajam. Ada-ada saja ;)

August 24, 2008
Pantai Manggar - Balikpapan
Pantai Manggar – Balikpapan

Alhamdulillah, setelah dua hari mempersiapkan training di kantor cabang Balikpapan, kami diajak jalan-jalan. “Pak, Mau ke Pantai ngga?” aku menawarkan ke Pak Krisna, “Penat, nih Pak!”

Pak Krisna, Alfian, Pak Bambang, Pak Rama, Mba Agnes, dan Mutia yang ikut serta dalam rombongan meluncur ke pantai. Balikpapan punya beberapa pantai yang indah. Salah satunya adalah Pantai Manggar.

Mba Agnes kasih ide menuliskan namanya di pasir putih pantai Manggar. “Wah, jadi pengen nulis nama mantan pacar juga nih, saya jadinya … Eits, mantan pacar sekarang sudah jadi istri maksudnya”. ;)

Roemahkoe di Kota Solo

July 13, 2008
Lorong dengan nuansa etnik dan lukisan yang menarik

Kota Solo menjadi kunjungan tugas saya kali ini. Bertepatan dengan liburan panjang, seluruh tempat penginapan di kota batik ini penuh.

“Wah, ada apa dengan kota Solo?”, pasti kota ini menyimpan banyak hal yang menarik, tanya saya dalam hati. Kota ini adalah kota kelahiran saya. Setelah satu tahun, saya dibesarkan di Samarinda. Jadi, tidak banyak budaya dan tempat yang sempat saya ekplorasi.

Ketertarikan saya berawal dari tempat menginap di Roemahkoe – Bed & Breakfast. Roemahkoe terletak di jantung kota Solo – tepatnya Jl. dr. Rajiman No. 501 Laweyan – Solo. Hal yang menarik yang bisa saya dapatkan di sini adalah :

  1. Konsep interior penginapan yang kental dengan nuansa Jawa bergaya “Art Deco”. Menurut sejarahnya dibangun tahun 1938.
  2. Foto-foto Solo tempo dulu dapat dinikmati di dinding bangunan yang ada di Roemahkoe. Selain itu, foto Solo tempo dulu juga dapat Anda lihat di buku panduan hotel ini. Sungguh menawan dan kreatif!
  3. Perpustakaan mungil dengan sejumlah buku sejarah dan majalah disediakan untuk tamu yang ingin membaca dan mengetahui lebih banyak tentang kota Solo.

    Perpustakaan Roemahkoe

    Perpustakaan Roemahkoe

  4. Harum aroma terapi yang saya rasakan ketika masuk ke kamar tempat saya menginap, membuat pikiran serasa lebih rileks.
  5. Roemahkoe yang berdekatan dengan rumah para pembatik di kampung batik, Anda dapat berbelanja atau menikmatinya dengan hanya berjalan kaki.
  6. Tersedianya makanan khas Solo, seperti Nasi Liwet, Londoh Pindang, Nasi Goreng Saudagar, Wedang Cemol dan aneka makanan Solo lainnya.
  7. Tempat yang unik, karena ada sarana untuk belajar membatik, memainkan Gamelan atau sekedar mengetahui watak Anda berdasarkan Astrologi Jawa, Primbon.