Menanti Kelahiran

by

From: 0816625923@mobile.indosat.net.id
Sent: Tuesday, March 06, 2007 2:45 PM

Minggu sore, jadwalku biasa kembali ke Jakarta setelah berakhir pekan di Tanjungsari, Sumedang rumah ibu mertua.
Kebetulan istri yang sedang mengandung 9 bulan bersama anakku bernama Kayla tinggal sementara di sana.
Namun 4 Maret 2007 sore itu, kuurungkan niat sambil menunggu kelahiran buah hati yang belum kunjung tiba.
Pada Minggu malam, Ira -nama panggilan istriku- mules pertama tiba pukul 23.00, Jelang 1,5 jam kemudian datang mules kedua, ketiga dan seterusnya semakin dekat waktunya.
Beberapa kali aku mendampingi istriku mondar-mandir ke kamar kecil.
Puncaknya, pukul 2 dinihari, saat Ira kembali ke kamar, air ketuban pun pecah.
Aku coba menenangkan diri, karena kubaca dari artikel tentang kehamilan dengan pecahnya ketuban bayi dalam kandungan memiliki perlindungan dari bahaya keracunan dalam hanya waktu beberapa jam. Kuketuk pintu kamar ibu mertua.
Bapak pun bergegas menyiapkan motor untuk menjemput bidan yang masih ada hubungan keluarga. Bidan Romidah namanya, Bi Idah panggilan singkatnya.
Tak lama Bi Idah pun datang, proses persalinan pun disiapkan di rumah. Padahal kendaraan pun sudah disiapkan, begitu juga dengan tas perlengkapan jika memang dibutuhkan ke rumah sakit.
Sebuah tas berisi perlengkapan persalinan dikeluarkan satu per satu dengan tenang oleh bi Idah di kamar, sarung tangan karet dikenakan Bi Idah.
Aku pindahkan Kayla anak pertama  berumur 1 tahun 5 bulan yang sejak semalam tidur di samping Mamanya ke kamar ibu mertua. Perlahan kuletakkan Kayla di kasur, namun Kayla terbangun dan akhirnya tidak ingin melanjutkan tidurnya.
Ia terdiam seperti ingin memahami dan mengerti apa yang terjadi di dalam rumah pagi itu.
Aku gendong, sambil membisik ke telinganya, “Adik mo lahir … “, kemudian kutitipkan Kayla ke Ibu.
Dzikir doa memenuhi ruang hatiku sambil menggengam tangan Ira yang semakin erat mendekati kelahiran.
“Papa…!” istriku memanggil sambil menahan rasa sakit yang tak terbayang rasanya. Meraih jemariku setiap kontraksi yang datang setiap 5 menit, 3 menit dan kuhitung.
“Tetap berdoa yaa Ma, sebut “Allah…, Allah…, Allah…” biar kita dapat kekuatan”, aku mencoba tetap menenangkan, meski hatiku pun cemas.

Kini, aku menyaksikan sendiri betapa beratnya perjuangan seorang ibu yang melahirkan. Mempertaruhkan hidup dan mati menjelang kelahiran.
Alhamdulillah, Allah memberikan aku kesempatan agar dapat menyaksikan langsung proses kelahiran. Menjadi pengalaman sangat berharga dan menambah keyakinanku betapa
luar biasanya kita diciptakan-Nya, Subhanallah…

“Tenang ya Neng, kita tunggu sebentar!”, Bi Idah pun menenangkan sambil memberikan arahan.
Alhamdulillah lahir juga adik bayi pada 5 Maret 2007, pukul 3 lewat dengan berat 3,9 kg/panjang 49 cm.
Persalinan berlangsung lancar di rumah. Bayinya sehat dan ‘nenen’nya kuat😉
Sekarang, Papanya Kayla yang masih mencari-cari nama yang baik untuk bayi barunya.

Terima kasih ya atas semua doanya..
Mohon maaf jika ada email atau sms ucapan yang belum terbalas.
Sekali lagi terima kasih …. 

Dari sebuah keluarga kecil,
Jimmy, Ira, Kayla dan ‘ade cayang’ 
[JWB]

Muhammad Dhafin Al Khairy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: